Panduan Pemesanan

Cara Menghitung Biaya Produksi Kaos: Dari Kain hingga Kemasan

Menghitung biaya produksi dengan kalkulator

Pelajari cara menghitung biaya produksi kaos dari kain, jahit, sablon, label, kemasan, overhead, hingga produk gagal agar harga jual lebih sehat.

Harga produksi kaos tidak lahir dari harga kain dan ongkos jahit saja. Ada biaya pola, potong, rib leher, sablon, label, kemasan, tenaga kerja, listrik, penyusutan alat, sampai produk gagal. Komponen kecil yang tidak dicatat sering membuat pemilik merek merasa produknya untung, padahal uang yang tersisa belum cukup membiayai produksi berikutnya. Perhitungan yang rapi membantu menentukan anggaran, membandingkan penawaran konveksi, dan menetapkan harga jual secara sehat.

Dalam akuntansi produksi, biaya sebuah barang umumnya terdiri dari bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead produksi. Pada kaos, bahan langsung mencakup kain badan, rib leher, benang tertentu, label, sablon, serta kemasan yang dapat ditelusuri ke produk. Tenaga kerja langsung meliputi pekerjaan membuat pola, memotong, menjahit, menyablon, dan melakukan finishing. Overhead berisi biaya produksi yang tidak mudah ditempelkan pada satu kaos, seperti listrik, sewa tempat produksi, perawatan mesin, penyusutan alat, dan gaji pengawas.

Perhitungan dimulai dari spesifikasi produk. Tentukan jenis kain, gramasi, warna, pola, ukuran, panjang lengan, jenis sablon, jumlah lokasi cetak, label, kemasan, serta jumlah pesanan. Perubahan kecil pada spesifikasi dapat mengubah biaya. Sablon depan berukuran A4 tentu berbeda dari sablon kecil satu warna. Kaos oversized membutuhkan kain lebih banyak daripada regular fit. Pesanan dengan banyak ukuran besar juga memiliki konsumsi kain yang berbeda.

Kain biasanya menjadi komponen terbesar. Jangan menghitungnya hanya dari harga per kilogram. Cari tahu berapa potong kaos yang dapat dihasilkan dari satu kilogram kain setelah memperhitungkan lebar kain, gramasi, pola, ukuran, dan sisa potongan. Kain 30s umumnya menghasilkan panjang lebih banyak per kilogram dibandingkan kain 20s karena lebih ringan. Hasil jadi tetap perlu dihitung melalui marker atau penataan pola yang digunakan oleh bagian potong.

Rumus sederhananya adalah biaya kain per kaos sama dengan total biaya kain yang terpakai dibagi jumlah kaos layak produksi. Jika kain senilai Rp3.600.000 menghasilkan 100 potong setelah memperhitungkan sisa, biaya kain per kaos adalah Rp36.000. Rib leher perlu masuk dalam perhitungan tersendiri. Pada kaos berbahan rajut, kebutuhan rib sering diperkirakan sebagai persentase dari kain badan, lalu dikoreksi berdasarkan desain kerah dan ukuran produk.

Setelah bahan, catat biaya proses. Masukkan ongkos pola dan sampel, potong, jahit, obras, pemasangan rib, sablon atau bordir, finishing, setrika, pelipatan, serta pemeriksaan kualitas. Biaya sablon dipengaruhi teknik, jumlah warna, ukuran desain, posisi cetak, warna kain, dan jumlah pesanan. Sablon manual mempunyai biaya persiapan screen sehingga semakin ekonomis pada jumlah besar. DTF atau DTG dapat lebih praktis untuk pesanan terbatas dan desain penuh warna.

Label dan kemasan terlihat kecil, namun nilainya terasa ketika dikalikan ratusan produk. Catat main label, size label, care label, hangtag, tali, stiker, plastik, kotak, kartu ucapan, serta biaya memasangnya. Jika sebuah merek memakai kemasan khusus untuk penjualan daring, tambahkan pelindung pengiriman yang benar-benar digunakan. Kemasan produk dan kemasan pengiriman sebaiknya tidak dicampur karena fungsinya berbeda.

Overhead sering menjadi biaya yang paling banyak dilupakan. Listrik mesin, sewa ruang produksi, perawatan, penyusutan alat, internet operasional, dan tenaga pengawas tetap dibayar meski tidak terlihat pada kaos. Total overhead dalam satu periode dapat dibagi menggunakan dasar yang masuk akal, misalnya jumlah unit produksi, jam kerja langsung, atau jam mesin. Cara pembagiannya harus konsisten agar biaya antarproduk dapat dibandingkan.

Cadangan untuk produk gagal juga perlu disiapkan. Noda, jahitan meleset, ukuran tidak sesuai, warna sablon berbeda, atau hasil cetak rusak dapat mengurangi jumlah barang layak jual. Jika produksi 103 kaos diperlukan untuk mengirim 100 kaos, biaya tiga produk tambahan merupakan bagian dari produksi. Mengabaikannya membuat harga satuan terlihat murah di atas kertas, kemudian membengkak saat pekerjaan selesai.

Setelah seluruh komponen dicatat, gunakan rumus: biaya produksi total sama dengan bahan langsung ditambah tenaga kerja langsung, overhead produksi, dan cadangan kegagalan. Biaya produksi per kaos diperoleh dengan membagi total tersebut dengan jumlah produk layak jual. Misalnya total biaya produksi mencapai Rp8.500.000 untuk 100 kaos layak jual, biaya produksinya adalah Rp85.000 per kaos. Angka ini belum otomatis menjadi harga jual.

Harga jual perlu menanggung biaya di luar produksi, seperti foto produk, iklan, komisi marketplace, administrasi, gudang, pajak, diskon, retur, dan keuntungan. Menambahkan persentase kecil langsung ke biaya produksi belum tentu menghasilkan margin yang cukup. Pemilik merek sebaiknya memisahkan biaya produksi, biaya penjualan, dan laba agar dapat melihat bagian mana yang perlu diperbaiki.

Sebelum menyetujui penawaran konveksi, mintalah spesifikasi tertulis: jenis kain, gramasi, pola, size chart, teknik sablon, detail label, kemasan, jumlah, toleransi produk, waktu pengerjaan, dan ketentuan revisi. Harga termurah belum tentu menghasilkan biaya akhir terendah jika banyak produk gagal atau harus diperbaiki. Perhitungan yang baik bukan mencari angka paling kecil. Tujuannya memastikan setiap rupiah mempunyai fungsi dan produk dapat dijual dengan keuntungan yang benar-benar terasa.

Sumber Riset

Bagikan: WhatsApp Facebook X

Butuh produksi seragam atau kaos custom?

Tim Bagak Konveksi siap bantu dari pemilihan bahan sampai barang sampai di lokasi Anda.

Konsultasi Gratis